Bolehkah Pengidap Jantung Berhubungan Seks? - Fungsi seksual dan penyakit jantung memang mempunyai kaitan, bahkan berkaitan dalam hubungan sebab akibat. Wajar jika kemudian timbul pertanyaan ini.
Hubungan seksual dapat mengakibatkan serangan jantung karena meningkatkan aktivitas pompa jantung. Namun, walaupun pernah mengalami penyakit atau serangan jantung, dorongan seksual tetaplah ada. Maka tak heran kalau mereka tetap ingin berhubungan seksual.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 22 laki-laki berusia 46-54 tahun yang dilakukan 12-15 pekan setelah serangan infark otot jantung yang pertama, menunjukkan bahwa denyut jantung rata-rata selama berhubungan seksual 127 per menit.
Kemudian, 16 orang mengikuti program latihan selama empat bulan. Ternyata terjadi penurunan denyut jantung selama hubungan seksual, yaitu 120 per menit. Sedangkan pada enam orang lainnya yang tidak mengikuti program latihan, tidak mengalami penurunan denyut jantung.
Data seperti itu menunjukkan adanya beban jantung ketika berhubungan seksual. Karena itu, setelah mengalami serangan jantung, harus mendapatkan perawatan yang baik. Usai perawatan, fungsi jantung harus tetap mendapat perhatian. Cukup tidaknya fungsi jantung untuk melakukan aktivitas fisik tertentu akan menentukan boleh tidaknya berhubungan seksual, demikian seperti dilansir dari buku Seks yang Membahagiakan karya Wimphie Pangkahila.
Dengan melakukan tes treadmill dapat diketahui kemampuan melakukan aktivitas fisik sampai seberapa mets. Sebagai perbandingan, hubungan seksual selama 5-15 menit membutuhkan sekira 15 mets, selain meningkatkan tekanan darah dan denyut nadi.
Kalau tes treadmill menunjukkan kemampuan jantung cukup selama melakukan aktivitas fisik, maka hubungan seksual boleh dilakukan. Bila tes treadmill menunjukkan kemampuan jantung tidak cukup, sebaiknya hubungan seksual tidak dilakukan..